Oleh: Muhammad Arifin
LimaSisiNews, Klaten (Jawa Tengah) –
Tanggal 27 Juli 1996 adalah tanggal yang tak boleh hilang dari ingatan kolektif bangsa. Hari itu, kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di Jalan Diponegoro, Jakarta, diserbu oleh kelompok yang hendak menggulingkan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri. Aparat diam, rakyat dilukai, dan sejarah mencatatnya sebagai Peristiwa Kudatuli—Kerusuhan Dua Tujuh Juli.
Bukan hanya kantor yang porak-poranda. Harapan rakyat kecil, idealisme demokrasi, dan keberanian bersuara ikut dirampas. Kudatuli adalah luka sejarah, dan luka itu tak pernah benar-benar sembuh.
Namun, seiring waktu, luka bisa memudar dalam narasi politik kekuasaan. Dan yang menyakitkan: justru dari rahim perjuangan itulah lahir pemimpin yang kini berjalan di jalur berbeda. Namanya: Joko Widodo.
Lahir dari Perlawanan, Menjauh dari Amanat
Jokowi adalah simbol rakyat. Ia bukan keturunan elite politik, bukan bagian dari kroni Orde Baru. Ia anak Solo yang didaulat menjadi harapan baru bangsa. Saat PDIP mengusungnya menjadi Gubernur DKI Jakarta, lalu Presiden RI, tak sedikit yang percaya bahwa darah perjuangan masih mengalir dalam tubuh partai dan pemimpinnya.



