Tapi sejarah kadang menciptakan ironi. Dalam dua periode kekuasaannya, Jokowi tak hanya menjauh dari PDIP—ia membentuk orbit kekuasaan sendiri. Dinasti politik perlahan dibangun. Anaknya, menantunya, dan lingkaran terdekatnya masuk ke gelanggang politik melalui jalan yang dulu ditentangnya.
Ketika Luka Tak Lagi Jadi Pedoman
Peristiwa Kudatuli seharusnya menjadi pedoman: bahwa kekuasaan tanpa etika akan melukai rakyat. Tapi dalam politik modern, ingatan seringkali dikaburkan. Megawati yang dulu berdiri melawan, kini menyaksikan Jokowi melenggang tanpa pertanggungjawaban moral kepada partai yang membesarkannya. Bahkan lebih dari itu, Jokowi justru memfasilitasi lahirnya kekuatan politik tandingan melalui putranya—yang menjabat wakil presiden mendampingi koalisi yang tidak diusung PDIP.
Rakyat kecil hanya bisa mengamati: bagaimana idealisme dikalahkan oleh kalkulasi, bagaimana amanat dikalahkan oleh ambisi, dan bagaimana luka lama dianggap usang dalam narasi kemenangan.
Sejarah Tak Pernah Tidur
Kudatuli bukan sekadar insiden. Ia adalah saksi bahwa demokrasi dibangun dengan nyawa, air mata, dan keberanian. Maka ketika Jokowi memilih untuk berpaling dari ingatan itu, baik kepada partai maupun kepada rakyat, ia bukan hanya menjauh dari PDIP. Ia menjauh dari akar sejarahnya sendiri.
Sejarah tak pernah tidur. Ia mencatat langkah-langkah kekuasaan, mencatat siapa yang setia dan siapa yang berkhianat. Di antara abu kantor PDI yang terbakar dan wajah rakyat yang luka, sejarah menanti: apakah luka Kudatuli akan dijadikan pelajaran, atau hanya sekadar halaman yang dilupakan?
AR



