LimaSisiNews, Yogyakarta (DIY) –
Menurut kisah kejawen, bledheg itu mempunyai sangkut paut dengan mitos antara Kiai Ageng Selo yang dianggap menaklukkan bledheg atau dapat menangkap petir.
Dalam hubungan dengan peristiwa terjadinya petir atau bledheg, masyarakat tidak mengadakan upacara secara khusus, mereka hanya mengucapkan mantra-mantra.
Untuk menanggapi bledheg ini masyarakat sering melakukan tindakan-tindakan tertentu yang merupakan naluri perbutan nenek moyangnya. Tindakan tersebut bertujuan agar mereka selamat, terhindar dari petir.
Waktu untuk membacakan mantra di rumah, tepatnya di depan pintu dan di luar rumah pada saat bledheg berbunyi. Orang yang sedang dalam perjalanan dapat mencari daun bledheg (daun jarak) dan diselipkan di tutup kepala, dipetik suket grinting, dimasukkan dalam saku.
Sosok Ki Ageng Selo
Dalam Babad Tanah Jawa menyebut Ki Ageng Selo adalah keturunan Raja Majapahit terakhir, Prabu Brawijaya V. Ayahnya bernama Ki Ageng Getas Pandowo memiliki tujuh anak antara lain Ki Ageng Selo, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, dan Nyai Ageng Adibaya.
Ki Ageng Selo lahir di Kota Gede, Yogyakarta. Ki Ageng Selo juga dikenal dengan nama Ki Ageng Ngabdurrahman. Ki Ageng Sela memiliki nama kecil Bagus Songgom. Ia hidup di masa Kesultanan Demak. Tepatnya pada masa kekuasaan Sultan Trenggana, awal abad ke-16. Dia lahir sekitar akhir abad-15 atau awal abad ke-16.
Ia hidup berprofesi sebagai petani yang gemar memperdalam ilmu agama dan tumbuh sebagai seorang yang religius. Di kemudian hari ia benar-benar menjadi orang yang berpengaruh. Desa tempatnya tinggal bernama desa Sela. Nama Sela berkaitan dengan keberadaan bukit/gunung berapi, dan merupakan sumber banyak garam dan api abadi yang terdapat dari wilayah Grobogan. Di desa tersebut juga Ki Ageng Sela meninggal dan dimakamkan.



