LimaSisiNews, Yogyakarta (DIY) –
Di balik gemerlap kembang api yang biasa menghiasi langit Yogyakarta, tersimpan kisah panjang tentang ketekunan, kepedulian sosial, sekaligus upaya menjaga tradisi. Sosok itu adalah Ibu Ayem, pedagang kembang api legendaris yang telah menekuni usahanya sejak 1968.
Ibu Ayem mulai berjualan di kawasan Ketandan pada awal 1970-an, sebelum akhirnya menetap di lokasi usahanya sekarang. Berbeda dengan pedagang musiman, tokonya buka setiap hari, menyediakan berbagai jenis kembang api hingga aksesori pesta.
Namun menjelang perayaan Imlek dan Ramadan tahun ini, suasana terasa berbeda. Ibu Ayem mengaku prihatin melihat kondisi ekonomi yang melemah, ditambah musibah banjir di sejumlah daerah.
“Sekarang ini kita prihatin. Banyak banjir, ekonomi juga sedang drop. Dari pada untuk hura-hura, lebih baik disumbangkan untuk sosial yang membutuhkan,” ujar Bu Ayem.
Ia menyebut, sejumlah vihara yang biasanya menjadi pelanggan setia memilih tidak menyalakan kembang api sebagai bentuk empati.
Bersama komunitas sekitar, Ibu Ayem pun menyalurkan bantuan berupa beras dan minyak goreng kepada warga yang membutuhkan.
“Mugo-mugo nomor siji itu sehat. Dikasih banyak uang kalau tidak sehat, kanggo apa?” tuturnya.



