Selain berdagang, Ibu Ayem juga dikenal aktif memberdayakan karyawan dan warga desa. Ia menerapkan filosofi hidup “kasih pancing, bukan ikan” dengan memberi modal usaha kecil kepada mereka yang ingin berjualan, terutama saat momen Lebaran.
“Saya didik mereka, ‘mbok, ya, Lebaran itu jualan’. Kalau tidak laku, kembalikan ke saya. Saya kasih mereka pancing, terutama orang-orang desa,” katanya.
Tak hanya memberi modal, Ibu Ayem juga menjamin keamanan para pedagang kecil yang mengambil barang darinya. Ia bahkan siap bertanggung jawab jika terjadi masalah di lapangan.
“Kalau dirampas atau ada apa-apa, kasihkan saja. Urusannya nanti sama aku, tak ijoli,” ucapnya tegas.
Bagi Ibu Ayem, berjualan kembang api bukan sekadar mencari keuntungan. Ada misi budaya yang ia rawat selama puluhan tahun, yakni nguri-uri tradisi Tionghoa yang identik dengan petasan dan kembang api sebagai simbol sukacita, harapan, dan doa keselamatan. Tradisi itu, menurutnya, perlu dijaga agar generasi muda tetap mengenal akar budaya di tengah perubahan zaman.
Kini, di usianya yang tak lagi muda, harapan Ibu Ayem sederhana: ekonomi segera pulih, masyarakat hidup lebih sejahtera, dan semua orang diberi kesehatan. Kebahagiaan terbesarnya justru datang dari hal-hal kecil melihat anak-anak desa bisa berjualan, membeli baju baru, atau mengisi pulsa dari hasil kerja mereka sendiri.
Di tengah lesunya ekonomi, kisah Ibu Ayem menjadi pengingat bahwa berbagi bukan hanya soal bantuan materi, melainkan membuka jalan agar orang lain dapat berdiri di atas kaki sendiri, sembari tetap merawat warisan budaya.
Ar/Ed. MN



