Oleh: Muhammad Arifin
LimaSisiNews, Yogyakarta (DIY) –
Setiap bangsa besar berdiri kokoh di atas akar budayanya. Maka menjadi ironi ketika generasi muda justru kehilangan keterhubungan dengan budaya mereka sendiri. Peringatan Hari Kebudayaan Nasional sejatinya bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum reflektif untuk menakar sejauh mana bangsa ini menjaga warisan leluhur—di tengah derasnya arus modernisasi global.
Hari ini, budaya kita terdesak dari berbagai sisi. Generasi muda lebih fasih mengenal budaya pop luar negeri ketimbang tarian tradisional daerahnya sendiri. Lagu-lagu berbahasa asing mereka hafal di luar kepala, namun pepatah lokal atau tembang dolanan menjadi asing di telinga mereka.
Lebih dari itu, bahasa lokal atau bahasa ibu pun semakin terpinggirkan. Banyak anak muda yang lebih memilih menggunakan bahasa global seperti Inggris dalam percakapan sehari-hari, terutama di ruang-ruang digital dan pendidikan tinggi. Padahal, bahasa bukan hanya alat komunikasi—ia adalah sarana menyimpan nilai-nilai budaya, filosofi hidup, dan seni tutur yang telah diwariskan lintas generasi. Ketika bahasa ibu dilupakan, maka hilang pula sebagian besar identitas dan warisan kebudayaan yang melekat padanya.
Aksara Jawa, misalnya, yang dahulu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan, kini hanya tersisa sebagai hiasan di gapura desa atau ukiran kayu, nyaris tanpa pemahaman makna. Budaya menjadi sesuatu yang dipandang “jadul” dan ketinggalan zaman, sementara budaya luar dianggap lebih keren dan modern.
Apa yang salah?



