Minimnya edukasi kultural dan kurangnya ruang kreatif yang mengaitkan budaya lokal dengan perkembangan zaman menjadi penyebab utama. Budaya tidak lagi dikenalkan sebagai sesuatu yang hidup, melainkan sekadar simbol masa lalu. Padahal, budaya—termasuk bahasa, kesenian, pakaian adat, hingga kearifan lokal—adalah jati diri yang tak tergantikan.
Modernisasi bukan musuh budaya. Namun ketika modernisasi tak dibarengi kesadaran akan pentingnya akar budaya, yang terjadi adalah penyeragaman nilai global yang mengaburkan ciri khas bangsa. Generasi muda harus diberi ruang untuk mencintai budaya lokal melalui pendekatan yang kontekstual—baik lewat pendidikan, teknologi, seni digital, media sosial, maupun platform kreatif lainnya.
Lebih penting lagi, budaya kita menyimpan nilai-nilai luhur dalam pergaulan sosial: tata krama, unggah-ungguh, rasa hormat kepada yang lebih tua, serta sikap tenggang rasa terhadap sesama. Inilah etika budaya yang membedakan bangsa kita—dan sayangnya, juga mulai tergerus. Jika anak muda tidak lagi tahu cara menyapa dengan hormat, berbicara santun, atau menghargai perbedaan secara arif, maka kita kehilangan lebih dari sekadar kesenian—kita kehilangan ruh budaya itu sendiri.
Kita tidak boleh tinggal diam menyaksikan budaya bangsa ini memudar perlahan. Dibutuhkan peran aktif semua pihak untuk menjadikan budaya sebagai bagian hidup yang tumbuh bersama zaman, bukan sekadar peninggalan museum.
Budaya bukan sekadar masa lalu. Ia adalah pondasi masa depan. Dan hanya bangsa yang mengenal budayanya dengan baik, yang bisa berjalan ke depan dengan kepala tegak dan hati yang bijak.
*



