Dengan begitu, terobosan ini tentu bisa mendukung gerakan Mbah Dirjo (Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja), yang berhasil menekan volume limbah penduduk hingga 60an ton per hari.
“Lokasinya (pengolahan sampah) juga sudah kami jajaki dan semakin mengerucut. Tetapi, untuk saat ini belum dapat kami sampaikan, ya,” jelasnya.
Setali tiga uang, ia pun enggan merinci nilai investasi dalam pengadaan alat pengolah sampah nan canggih yang mengusung teknologi dari Korea Selatan itu.
Namun, Pj Wali Kota menyampaikan, pengadaan alat sepenuhnya dibiayai oleh investor, kemudian Pemkot tinggal membayar selaras dengan tonase sampah .
“Jadi, nilai full dari investor. Kita punya berapa ton sampah , serahkan ke mereka, mereka yang mengurus (pengolahannya), kita bayar ke mereka,” ucapnya.
Namun, ketika wacana tersebut sudah terealisasi, ia mendorong warga masyarakat supaya tetap konsisten melakukan pemilahan limbah sejak dari sumbernya.
Bukan tanpa alasan, jika sampah yang dibawa sudah dalam kondisi terpilah, antara organik dan anorganik, maka proses pengolahannya bakal semakin cepat.
“Karena pemilahan di lokasi pengolahan sampah itu memakan waktu yang cukup banyak, sekitaran 60an persen waktu digunakan untuk memilah,” katanya.
“Makanya, pemilahan sampah sejak dari sumbernya sangat-sangat membantu, untuk pengolahan sampah berikutnya, biar makin cepat,” ungkap Singgih.
Arifin



