“Apakah Pemerintah Kota tidak malu melihat rakyatnya harus merogoh kocek sendiri untuk menyelesaikan masalah sampah? Ini adalah cerminan bahwa sistem pengelolaan sampah kita sangat jauh dari kata memadai. Seharusnya ada langkah konkret dari pemerintah, bukan justru membiarkan masyarakat yang bergerak sendiri,” tegas Fokki.
Ia juga menekankan bahwa inisiatif ini tidak hanya tentang membersihkan depo, tetapi juga menyuarakan kekecewaan masyarakat terhadap minimnya perhatian Pemerintah dalam menangani isu lingkungan.
“Kota Yogyakarta memiliki reputasi sebagai kota budaya dan wisata. Tidak seharusnya masalah seperti ini dibiarkan berlarut-larut,” tambahnya.
Aksi yang dilakukan oleh penggerobak sampah ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi pemerintah untuk segera mengambil tindakan nyata.
“Kami berharap Pemerintah membuka mata dan telinga. Jangan sampai ada lagi inisiatif serupa karena ketidakmampuan mereka. Sampah adalah masalah kita bersama, dan solusi harus datang dari pemerintah sebagai pemegang tanggung jawab utama,” tutup Bung Japan.
Dengan adanya aksi ini, para penggerobak sampah Rejowinangun tidak hanya membersihkan lingkungan tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya kepedulian bersama. Namun, pertanyaan besar tetap menggantung: Kapan Pemerintah Kota Yogyakarta akan benar-benar hadir untuk rakyatnya?
Ar/Ed. MN



