“Sesampainya diruang kepala sekolah, saya lagi-lagi diminta untuk membuat surat pernyataan bahwa berita dan cerita anak saya itu bohong. Ibu kepala sekolah sempat bilang “anaknya masih ingin lanjut sekolah di sini to pak?” begitu. Jadi seolah-olah saya seperti sudah diintimidasi,” lanjutnya.
Waktu itu, menurut keterangan Sumiyarto, di ruangan itu juga ada korban, Kepala sekolah, wakil Kepala sekolah, bagian humas, beberapa guru dan oknum guru (JK) yang diduga melakukan dugaan tindakan kekerasan terhadap korban. Ada juga teman – teman korban yang juga memberikan kesaksian bahwa cerita korban tersebut memang benar.
Namun kendati demikian, si oknum guru tersebut masih tetap menyangkal bahwa Ia melakukan tindakan itu. Justru pihak sekolah meminta kepada orangtua korban untuk menyampaikan kepada wartawan yang menulis berita tersebut agar berita tersebut di takedown.
“Pihak sekolah mengancam saya kalau sampai dengan besok, Selasa (12/09/2023) jam 8 pagi, berita itu tidak dihapus, maka akan dilaporkan ke pihak yang berwajib,” tuturnya.
Sumiyarto selaku orang tua korban berharap ada kebenaran terkait kasus yang menimpa anaknya tersebut.
Seperti yang dikutip dari media jejak 77, yang mengatakan bahwa Seorang oknum guru inisial JK diduga melakukan tindakan kekerasan terhadap salah satu siswi kelas XII SMA negri 1 Galur pada saat jam pelajaran berlangsung, Kamis (07/09/2023).
Awal mula kejadian, bahwa dirinya disaat jam terakhir pelajaran berlangsung disuruh mengerjakan tugas, namun tiba-tiba oknum guru tersebut mendatangi dirinya sambil menerangkan tentang tugas yang harus dikerjakan, tetapi sambil mencolok-colokan pulpen ke lengan tangan bagian atas CY.
Setelah adanya pemberitaan tersebut, orang tua korban merasa sudah diintimidasi dari pihak sekolahan dengan diminta untuk membuat kesaksian palsu dan ada ancaman pihak sekolah akan membuat laporan ke jalur hukum. Selain itu juga korbanpun merasa ada tekanan dari pihak sekolahan.
Arifin



