Oleh: Muhammad Arifin
Ketika geliat desa menjelma daya tarik global, pariwisata tak lagi milik kota besar, melainkan dari tanah yang dijaga oleh alam dan budaya.
LimaSisiNews, Kulonprogo (DIY) –
Dibalik kemegahan Yogyakarta International Airport (YIA), berdiri sunyi namun pasti desa-desa kecil yang kini mulai menyapa dunia. Tak dengan kemewahan, tapi lewat alam yang jujur, budaya yang lestari, dan kesenian yang hidup dari generasi ke generasi.
Desa-desa seperti Tinalah, Nglinggo, Sermo, Kalibiru, dan Purwosari menjadi saksi bagaimana wajah baru Kulon Progo dibentuk dari akar: alam, budaya, dan rakyat.
Di Tinalah, bukan hanya susur sungai atau camping di hutan Menoreh yang jadi andalan. Tapi juga kesenian Jathilan dan Gejog Lesung yang ditampilkan di bawah lampu petromaks, membawa kita pada pengalaman spiritual khas desa.
Nglinggo tak hanya memikat dengan kebun tehnya, tapi juga lewat pertunjukan Tari Lengger Tapeng, Karawitan anak-anak, hingga festival Senja di Nglinggo, dimana warga dan wisatawan bersatu dalam irama bambu dan bunyi rebana.
Di sekitar Waduk Sermo, masyarakat menampilkan Wayang Kethoprak dan Sholawat Hadroh dalam acara sambatan dan sedekah bumi. Di sinilah, wisata bukan hanya tempat, melainkan pengalaman—panggung yang menghidupkan nilai-nilai.
Purwosari tak hanya indah lewat air terjunnya. Di sana, Tari Topeng, Reog Kendang, hingga seni macapat masih ditampilkan saat acara dusun maupun penyambutan tamu. Seolah alam dan budaya saling berbicara dengan caranya sendiri.



