By: Muhammad Arifin
LimaSisiNews, Klaten (Jawa Tengah) –
Setiap negara punya kompetisi elit. Ada Liga Primer Inggris di sepak bola, ada Wall Street di ekonomi. Tapi di Indonesia, kita punya satu liga yang tak pernah sepi peminat: Liga Korupsi Indonesia.
Kompetisi ini tidak digelar di stadion, tapi di ruang rapat BUMN, kementerian, hingga lobi kekuasaan. Tak ada seleksi ketat, yang penting punya kuasa, celah regulasi, dan mental serigala. Tidak ada wasit netral. Dan yang paling menyedihkan: tak ada degradasi moral.
Musim 2025 ini adalah musim paling brutal sepanjang sejarah. Papan klasemen dipimpin oleh PT Pertamina FC dan PT Timah United dengan dugaan kerugian negara masing-masing Rp271 triliun. Dua tim raksasa ini bukan sekadar juara bertahan, tapi simbol betapa korupsi sudah menyatu dalam struktur industri energi dan tambang kita.
Di posisi ketiga, masih kuat BLBI All-Stars, legenda lama yang tak kunjung tuntas. Menyusul di bawahnya Duta Palma Agro United dengan Rp78 triliun, dan Asabri Warriors yang menggelapkan dana prajurit sebesar Rp22 triliun. Apakah kita sedang hidup di negeri normal, ketika uang pensiunan bisa dicuri berjamaah tanpa ampun?
Di lini tengah ada Jiwasraya FC, Garuda Indonesia, BTS Kominfo, hingga PT TPII dan Sawit CPO FC. Semua bermain rapi dalam sunyi, jauh dari sorotan harian. Tapi nominal kerugiannya tetap triliunan rupiah, cukup untuk membangun ribuan sekolah, rumah sakit, bahkan ibu kota baru (tanpa utang).



