Sayangnya, semua ini bukan fiksi. Ini bukan satire belaka. Ini adalah realita yang dengan bangga dikemas negara dalam format “penegakan hukum”, sambil di sisi lain memberi panggung politik pada mereka yang terlibat. Bahkan, sebagian pelaku masih duduk di kursi strategis, menyusun regulasi, berbicara soal moral, dan mencitrakan diri di depan publik.
Yang ditinggalkan? Kita. Rakyat.
Menonton dari layar kecil, mencuit dari balik kata-kata pedas, sambil menanggung dampak langsung: harga mahal, pelayanan buruk, dan kepercayaan yang makin hancur terhadap institusi.
Jika ini terus dibiarkan, maka Liga Korupsi Indonesia akan jadi liga permanen. Disponsori negara, disiarkan media, dan didiamkan oleh rakyat yang mulai apatis.
Tapi belum terlambat untuk membalik klasemen. Suara kita masih bisa jadi peluit. Tulisan kita bisa jadi kartu merah. Dan gerakan kita bisa jadi sorak sorai yang mengubah arah pertandingan.
Karena republik ini bukan milik penjarah. Tapi milik mereka yang masih percaya bahwa keadilan bisa, dan harus diperjuangkan.
AR



