LimaSisiNews, Yogyakarta (DIY) –
Warga Yogyakarta (Kawula Ngayogyakarta) mengadakan aksi laku budaya dengan ziarah ke makam Panembahan Senopati di Kompleks Makam Raja Mataram di Kotagede.
Dengan mengenakan baju peranakan (pakaian khas Kraton Yogyakarta) masyarakat Yogyakarta secara bersama-sama berziarah dan berdoa, usai ziarah disampaikan intisari kegiatan lewat tembang dari geguritan berisi pesan moral merespon kondisi terkini.
Ziarah ke makam leluhur, khususnya pendiri Mataram, Panembahan Senopati ini dilakukan sebagai simbol aksi budaya, dan sebagai respon kondisi kebangsaan di Indonesia, khususnya tingkah polah Joko Widodo yang “melik nggendhong lali”.
Susanto Dwi Antoro, tokoh masyarakat Yogyakarta seusai ziarah dan doa di makam leluhur Mataram menyatakan, mewakili warga Kota Yogyakarta ada keprihatinan dengan perilaku Joko Widodo.
“Istilahnya kita ini ingatkan ojo melik nggendong lali. Masyarakat gelo (menyesal) dan sedih atas tindak tanduk dan perilaku Joko Widodo. Wes ora iso dikandani (sudah tidak bisa diingatkan-red) bahkan banyak tokoh nasional dan politik yang memberi tahu, tapi tidak didengar,” ujarnya, usai berdoa bersama saat dikonfirmasi LimaSisiNews, Senin (13/01/2025).
Pilihan laku budaya dengan ziarah ke makam Panembahan Senopati, sekaligus mengingatkan Joko Widodo atas segala perilakunya selama ini yang dekat dengan melik nggendong lali.
Usai doa bersama, dilantunkan tembang dan geguritan yang isinya ngudarasa atas segala persoalan kebangsaan yang kini terjadi juga harapan semua hal yang buruk untuk negeri bisa segera berlalu.
“Melik nggendong lali dalam pemahaman manusia Jawa bermakna keinginan untuk memiliki sesuatu yang ada pamrih, ingin memiliki sesuatu yang bukan miliknya. Sementara nggendong lali bermakna lupa dan cenderung bertindak melanggar aturan atau wewaler,” paparnya.
Orang yang melik nggendong lali cenderung berkeinginan dan memaksa untuk memiliki kedudukan yang diinginkan, sekaligus lupa atau menggunakan segala cara demi ambisinya.
Sebagaimana diketahui publik sebelumnya terjadi pelanggaran etik Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang notabene adik ipar Joko Widodo guna memuluskan anaknya Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka dan berbagai penyalahgunaan kekuasaan lainnya mengakibatkan rusaknya sistem Konstitusi yang ada.
Saat tidak memenuhi syarat, persyaratannya yang dirubah. Rumah yang membesarkannya juga dibakar sendiri, lupa siapa yang melahirkan dan membesarkan. Sampai akhirnya dipecat.



