LimaSisiNews
Minggu, 27 September 2026
No Result
View All Result
  • News
    • Internasional
    • Siantar – Simalungun
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Hukrim
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Wisata
  • News
    • Internasional
    • Siantar – Simalungun
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Hukrim
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Wisata
No Result
View All Result
LimaSisiNews
  • NEWS
  • SIANTAR – SIMALUNGUN
  • PERISTIWA
  • REGIONAL
  • NASIONAL
  • INTERNASIONAL
  • HUKUM
  • ENTERTAINMENT
  • OLAHRAGA
  • TEKNOLOGI
  • WISATA
Home Internasional
Ilustrasi: Suasana pabrik mobil di China. (Foto: Ant./Xinhua/aa).

Ilustrasi: Suasana pabrik mobil di China. (Foto: Ant./Xinhua/aa).

Generasi Muda China Sudah Enggan Bekerja di Pabrik

by REDAKSI
21/11/2022
in Internasional, Khas
15
SHARES
101
VIEWS

LimasisiNews, Shenzhen (China) –

Dibesarkan di sebuah desa di China, Julian Zhu, hanya beberapa kali bertemu ayahnya dalam setahun ketika dia berlibur dari pekerjaannya yang melelahkan di sebuah pabrik tekstil di Provinsi Guangdong Selatan.

Bagi generasi ayahnya, pekerjaan pabrik adalah jalan keluar dari kemiskinan di pedesaan. Tapi bagi Zhu, dan jutaan pemuda China lainnya, gaji rendah, jam kerja yang panjang dan risiko cedera, sudah tidak layak lagi untuk diperjuangkan.

“Setelah beberapa saat, pekerjaan itu membuat pikiran Anda menjadi buntu,” kata pria berusia 32 tahun itu, yang keluar dari pekerjaan di pabrik tersebut beberapa tahun lalu dan sekarang mencari nafkah dengan menjual susu formula dan melakukan pengiriman skuter untuk supermarket di Shenzhen, pusat teknologi selatan China.

“Saya tidak mau lagi untuk melakukan hal yang sama,” katanya.

Keengganan Zhu dan anak muda lainnya berusia antara 20-an dan 30-an untuk bekerja di pabrik tekstil berkontribusi pada kekurangan tenaga kerja yang semakin parah, membuat frustrasi para produsen di China karena mereka memproduksi sepertiga dari barang yang dikonsumsi secara global.

Para pengusaha pemilik pabrik mengatakan, mereka akan mendapatkan lebih banyak tenaga muda untuk menggantikan tenaga kerja mereka yang menua. Tetapi, menawarkan upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih baik yang diinginkan kaum muda China sebaliknya akan berisiko mengikis keuntungan dalam persaingan sengit.

Sementara itu, pabrik skala kecil mengatakan bahwa investasi besar dalam teknologi otomasi adalah sesuatu yang sulit dijangkau, terutama ketika terjadi kenaikan inflasi dan biaya pinjaman yang membatasi permintaan di pasar ekspor utama China.

Lebih dari 80% pabrik di China menghadapi kekurangan tenaga kerja mulai dari ratusan hingga ribuan pekerja tahun ini, setara dengan 10% hingga 30% dari tenaga kerja mereka, demikian menurut sebuah survei oleh CIIC Consulting.

Kementerian Pendidikan China memperkirakan kekurangan hampir 30 juta pekerja manufaktur pada tahun 2025, lebih besar dari populasi Australia.

Di atas kertas, tenaga kerja seolah sangat berlimpah karena sekitar 18% orang China berusia 16 – 24 menganggur.

Tahun ini saja, terdapat 10,8 juta lulusan untuk memasuki pasar kerja yang, selain manufaktur, namun tidak terserap. Perekonomian China, yang terpukul oleh pembatasan Covid-19, penurunan pasar properti, dan tindakan keras peraturan pada industri teknologi dan swasta lainnya, menghadapi pertumbuhan paling lambat dalam beberapa dekade.

Klaus Zenkel, Ketua Kamar Dagang Eropa di China Selatan, pindah ke wilayah itu sekitar dua dekade lalu, ketika lulusan universitas kurang dari sepersepuluh jumlah tahun ini dan ekonomi secara keseluruhan sekitar 15 kali lebih kecil dalam dolar AS (Amerika Serikat) saat ini.

Dia menjalankan pabrik di Shenzhen dengan sekitar 50 pekerja yang memproduksi ruangan berpelindung magnetis yang digunakan oleh rumah sakit untuk pemeriksaan MRI dan prosedur lainnya.

Zenkel mengatakan, pertumbuhan ekonomi China yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir telah mengangkat aspirasi generasi muda, yang sekarang justru melihat bidang pekerjaannya semakin tidak menarik.

“Bagi tenaga muda lebih mudah melakukan pekerjaan ini, menaiki tangga, mengerjakan beberapa pekerjaan mesin, menangani perkakas, dan sebagainya, tapi kebanyakan pemasang kami berusia 50 sampai 60 tahun,” ujarnya.

“Cepat atau lambat, kita perlu mendapatkan lebih banyak orang muda, tetapi itu sangat sulit. Pelamar akan melihat sekilas dan berkata ‘tidak, terima kasih, itu bukan pekerjaan untuk saya’.”

Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, badan manajemen makroekonomi China, dan kementerian pendidikan dan sumber daya manusia tidak membalas permintaan komentar.

Zaman Modern

Pihak produsen mengatakan bahwa mereka memiliki tiga opsi utama untuk mengatasi ketidakcocokan pasar tenaga kerja: yaitu mengorbankan margin keuntungan untuk menaikkan upah; berinvestasi lebih banyak dalam otomatisasi; atau mengikuti gelombang decoupling yang dipicu oleh persaingan sengit antara China dan Barat dan beralih ke negara dengan tenaga kerja lebih murah seperti Vietnam atau India.

Namun semua pilihan itu sulit untuk diterapkan

Liu, yang menjalankan pabrik di rantai pasokan baterai listrik, telah berinvestasi pada peralatan produksi yang lebih canggih dengan pengukuran digital yang lebih baik. Dia mengakui bahwa pekerja yang lebih tua kesulitan untuk mengikuti ritme kerja cepat, atau saat membaca data di layar.

Liu, yang seperti kepala pabrik lainnya, menolak untuk memberikan nama lengkapnya agar dapat berbicara dengan bebas tentang perlambatan ekonomi China, mengatakan bahwa dia mencoba memikat pekerja yang lebih muda dengan upah 5% lebih tinggi, tetapi masih saja ditanggapi dengan dingin.

“Ini seperti adegan Charlie Chaplin,” kata Liu, menggambarkan kinerja pekerjanya, mengacu pada sebuah adegan dalam film “Modern Times” tahun 1936, tentang kecemasan pekerja industri AS selama Depresi Hebat. Tokoh utama, Little Tramp, yang diperankan oleh Chaplin, gagal mengencangkan baut pada sabuk konveyor.

Page 1 of 2
12Next
Tags: Headline
Share6SendShare

Berita Terkait

Ilustrasi Ki Sidoguro

Bukit Sidoguro: Jejak Sang Pertapa Sakti

Juni 28, 2025

LimaSisiNews, Klaten (Jawa Tengah) - Di tanah tinggi Krakitan, berdirilah sebuah bukit yang sunyi namun sarat makna. Namanya Sidoguro, tempat bertapanya...

Ilustrasi

Sosok Nyi Ageng Rakit Miliki Peran Penting Dalam Sejarah Penyebaran Agama Islam di Bayat

Juni 28, 2025

LimaSisiNews, Klaten (Jawa Tengah) - Siapa sebenarnya sosok Nyi Ageng Rakit dan kenapa sosoknya jadi Ikon wisata di komplek Rowo Jombor,...

HUT Ke-9, Royal Darmo Malioboro Hotel Bakal Gelar Baksos dan Promo Baru 

Juni 3, 2025

LimaSisiNews, Yogyakarta  (DIY)- Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa hotel yang mengusung konsep heritage ini genap sembilan tahun. Sebagai wujud...

Berita Terbaru

Hukrim

Polsek Buntu Pane Sergap Puluhan Remaja Diduga Hendak Balap Liar, 21 Sepeda Motor Diamankan

September 17, 2026
Peristiwa

Lagi, Kecelakaan Kerja di Tambang Batubara Blok Cepak Pasar Cibobos: Seorang Warga Cibobos Tewas, Tanggung Jawab Pengelola Dipertanyakan

September 11, 2026
Hukrim

GAMMA Pertanyakan Pengesahan RJ Kasus Dugaan Penculikan Uun, Siap Geruduk Polda Banten

September 10, 2026
Hukrim

Polisi Picing Mata, Gudang CPO dan Kernel Ilegal di Eks PT. Radian Utama Km 12 Air Kulim Kebal Hukum

Juli 13, 2026
DI Yogyakarta

Sleman Rawat 374 Sumber Mata Air, Kunci Kemandirian Pangan Ada di Irigasi yang Mantap

Juni 8, 2026
Banten

Perhutani Minta PT. NKE dan PT. GHL Hentikan Pembangunan PLTMH di Kawasan Hutan Ciherang Selatan Petak 10.11 dan 12

Juni 8, 2026
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

©2024 LimaSisiNews.com

rotasi barak berita hari ini danau toba

No Result
View All Result
  • News
    • Internasional
    • Siantar – Simalungun
    • Peristiwa
    • Regional
    • Nasional
    • Hukrim
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Wisata

©2024 LimaSisiNews.com

rotasi barak berita hari ini danau toba

You cannot copy content of this page

https://limasisinews.com/