Ia lebih jauh menjelaskan, ada 3 komponen penting yang bisa mempengaruhi baik buruknya anak. Ketiga komponen tersebut harus harus sinkron.
“Yang namanya pendidikan anak itu harus ada 3 komponen yang mempengaruhi. Ada 3 pilar pendidikan, yaitu sekolah, masyarakat dan keluarga. Ketiganya itu harus sinkron.Pertama, di sekolah, anak harus bisa dikondisikan dengan baik. Kemudian yang kedua di masyarakat. Masyarakat ini juga harus memiliki perhatian untuk membentuk anak-anak ini untuk bisa menjadi baik. Ada pengawasan lingkungan terhadap anak. Kemudian yang ketiga, adalah keluarga.
Kita membentuk Ranperda Ketahanan Keluarga ini karena kita ingin agar keluarga-keluarga di Kabupaten Sleman ini benar-benar produktif, menciptakan keluarga yang harmonis. Kemudian anak-anaknya juga bisa mendapatkan perhatian dari keluarga,” jelas Yani lagi.
Ia juga memaparkan, ketika anak mendapatkan perhatian dari keluarga , tentunya anak akan merasa lebih nyaman di rumah. Curhat anak akan kepada kedua orang tuanya dan bukan kepada orang lain. Namun ketika anak ini lebih nyaman di luar, maka itu bisa menjadi bibit-bibit anak mengaktualisasikan dirinya di luar. Ketika anak ketemu dengan orang yang baik, dia akan baik, ketika ketemu dengan lingkungan tidak baik, inilah yang kemudian bisa menyebabkan anak terjerumus kepada kejahatan jalanan.
“Saya harapkan agar semua masyarakat mulai terbangun kesadaran mereka akan bahayanya kejahatan jalanan yang seperti virus yang bisa menular. Maka harus menjadi tanggung jawab bersama, baik masyarakat, maupun institusi pendidikan, dan terlebih lagi keluarga.
Forum-forum parenting perlu diadakan untuk menciptakan keluarga di Sleman yang harmonis. Bisa dimulai di sekolah-sekolah agar ada pembinaan orang tua dan saling berlomba menciptakan suasana nyaman bagi anak tinggal di rumah. Nyaman dalam arti anak-anak lebih suka curhat dengan orang tua mereka dari pada di luar untuk mengaktualisasikan perasaan mereka,” pungkas Yani.
Arifin/ed. MN



