Ia juga berharap wayang bisa menjadi bagian keseharian masyarakat,tidak hanya secara fisik wayangnya, tapi hal yang terpenting adalah nilai-nilai didalam tontonan yang sebenarnya adalah nilai tuntunan itu masuk terimplementasi.
“Sehingga kemudian kami banyak cara bagaimana sosialisasi-sosialisasi nilai-nilai Pancasila. Kemudian nilai-nilai budaya Jawa, kemudian menjadi paket, sehingga kalau kita lihat Festival Dalang ini penilaian narasi nilai di dalam caturan jadi bagian penting .Jadi tidak hanya wadahnya itu saja, tapi isinya juga menjadi kendala bagaimana nilai itu, nilai itu agak susah ya, abstrak tapi dia bisa dititipkan kepada dalang untuk kemudian bisa dinarasikan oleh dalang, Nah itu bagian terpenting didalam penilaian,” paparnya.
Terpisah, Nando Kusumawari asal Kabupaten Gunungkidul salah satu peserta yang berhasil meraih juara pertama untuk kategori wayang kulit merasa senang dan dirinya tidak menyangka bakal meraih juara pertama.
“Pastinya saya seneng banget dan tidak nyangka bakal menang. Susah diungkapkan lewat kata-kata,” tuturnya.
Pelajar SMA Negeri 1 Wonosari Gunungkidul yang baru berusia 16 tahun ini berharap agar wayang bisa berkembang dan bisa dicintai anak-anak saat ini.
“Semoga wayang kulit bisa lebih berkembang dan bisa lebih dicintai anak – anak muda sekarang dan juga agar budaya kita tidak hilang,” harapnya.
Sementara itu ketua Pepadi DIY mengatakan dalang remaja yang masih minim pengetahuan ilmu pedalangan nya agar bisa menyesuaikan dinamika jaman. Format pakeliran pun juga harus dikemas lebih efektif dan komunikatif.
Arifin/ed. MN



