Suatu hari, karena kesal dengan kelakuan anaknya yang tak kunjung berubah, Nyi Ageng Rakit mengutuk Jombor menjadi makhluk air dan tempat tinggalnya menjadi rawa luas. Kutukan itu menyebabkan terbentuknya Rowo Jombor, yang dinamai dari nama sang anak, Jombor.
Versi lain: Pertempuran dan Kutukan
Ada pula versi lain yang menyebut bahwa Rowo Jombor terbentuk dari air mata warga desa yang menangisi perang saudara, atau dari tempat keramat tempat seorang pemuda tenggelam karena melanggar pantangan adat.
Nilai Budaya dan Spiritual
Rowo Jombor dianggap memiliki kekuatan gaib dan sering dikaitkan dengan cerita spiritual seperti: Tempat bersemayamnya makhluk halus penunggu rawa, lokasi semedi. para leluhur, Kadang muncul suara gamelan atau bayangan istana gaib dari tengah rawa.
Sebagai informasi, Nyi Ageng Rakit adalah seorang tokoh wanita yang diyakini sebagai istri Sunan Pandanaran II (Bupati Semarang yang hijrah ke Bayat dan menjadi ulama). Setelah wafatnya sang suami, ia memilih bertapa dan menyepi di kawasan rawa (yang kini dikenal sebagai Rowo Jombor).
Konon, karena kesaktiannya, Nyi Ageng Rakit bisa mengendalikan air dan menjaga kesuburan wilayah sekitarnya. Masyarakat percaya bahwa keberadaan Rowo Jombor tak lepas dari doa dan laku spiritual beliau.
Beberapa versi menyebut bahwa Nyi Ageng Rakit moksa (menghilang secara gaib) di sekitar Rowo Jombor, dan hingga kini tempat itu dianggap keramat oleh sebagian masyarakat.
Beberapa warga percaya bahwa di dasar Rowo Jombor terdapat kerajaan gaib.
Kadang muncul cerita tentang penampakan atau kejadian aneh di sekitar rawa, terutama saat malam hari atau pada bulan Suro.
Sumber: cerita masyarakat Lokal dan Pemprov Jateng
Penulis: AR



