“Dia lupa bahwa tanpa wartawan dan LSM, kebusukan di pemerintahan akan semakin parah. Atau mungkin justru itu yang dia inginkan? Agar korupsi dan ketidakadilan terus berjalan tanpa ada yang mengawasi?,” sindir M. Arifin tajam.
“Yandry harus mempertanggungjawabkan pernyataannya tersebut, dan harus segera minta maaf secara terbuka atas statementnya yang menilai seolah-olah semua wartawan abal-abal,” tandasnya.
Kemarahan para jurnalis dan aktivis LSM kini semakin membesar. Mereka tidak hanya menuntut permintaan maaf, tetapi juga mendesak agar Presiden Prabowo mempertimbangkan posisi Yandri Susanto sebagai Menteri.
“Yandry, jangan mentang-mentang anda pejabat, terus anda diam dan anti kritik. Jangan seperti banci,” tegasnya.
Kini, publik menunggu apakah Yandri Susanto akan bertanggung jawab atas ucapannya atau justru berlindung di balik ketiak kekuasaannya. Jika ia tetap diam, maka semakin jelas bahwa pejabat seperti dia tidak lebih dari simbol kesombongan dan anti-demokrasi di negeri ini.
Ar/Ed. MN



