“Filosofinya tidak hanya membersihkan rongkonnya saja, tapi juga membersihkan segalanya secara spiritual,” katanya.
Bupati menjelaskan, pelaksanaan jamasan kali ini dikhususkan untuk jajaran pejabat daerah. Namun masyarakat umum juga akan difasilitasi melalui kegiatan serupa yang akan digelar di 10 titik lokasi berbeda, yang akan difasilitasi Dinas Kebudayaan Gunungkidul
“Petani, pedagang pun banyak yang memiliki Tosan Aji. Sesuai dengan kodamnya masing-masing, ada yang untuk penglarisan, pertanian, dan sebagainya,” ucapnya.
Sementara untuk kalangan Kepala bagian Pemkab Gunungkidul dan jajarannya, Jamasan Tosan Aji akan dilaksanakan di Taman Budaya Gunungkidul pada pekan berikutnya. Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
“Ternyata tidak banyak yang tahu bahwa keris itu memiliki pamor yang sarat makna, bukan hanya motif. Ada pamor cunjung derajat, udang emas, jaran goyang, dan sebagainya. Ini penting dikenalkan kepada anak-anak kita,” terang Endah.
Bupati berharap kegiatan ini dapat menguatkan identitas budaya lokal dan menjadi bagian dari upaya membangun kemajuan daerah.
“Melalui Jamasan Tosan Aji, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melestarikan budaya sebagai warisan yang memperkuat jati diri bangsa,” tutupnya.
Kegiatan ini ditandai dengan prosesi jamasi atau pencucian pusaka yang dilakukan secara khidmat dan penuh tata cara adat. Dalam prosesi ini, pusaka-pusaka seperti keris, tombak, dan patrem dibersihkan menggunakan air kembang setaman, jeruk nipis, dan warangan, lalu dikeringkan dan dilap dengan kain mori putih.
Ritual ini dipercaya tidak hanya membersihkan secara fisik, tetapi juga menyucikan nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam setiap pusaka.
BW



