“Ini membuktikan bahwa Pemerintah Kota Yogyakarta memiliki andil yang cukup besar dalam sejarah keistimewaan DIY. Jejak-jejak tersebut saat ini dapat dilihat melalui penampakan fisik didukung dengan arsip tekstual dan arsip foto yang disimpan dan dilestarikan di lembaga kearsipan,” paparnya.
Malioboro yang dibangun sejak awal abad 19 tidak hanya sekedar berfungsi sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian tetapi juga menjadi warisan budaya yang tetap terjaga keberadaannya. Malioboro juga merupakan salah satu unsur pendukung Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia,” lanjut Patricia.
Lebih lanjut Patricia memberikan apresiasi kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan yang telah menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik.
“Arsip tekstual dan arsip foto yang dilestarikan di lembaga kearsipan tentang revitalisasi Malioboro merupakan kategorisasi budaya benda (tangible) dan budaya tak benda (intangible) sebagai kekayaan tradisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang sarat nilai filosofis,” jelasnya.
Diakhir sambutannya, Patricia menyampaikan bahwa pameran foto revitalisasi kawasan Malioboro ini juga membuktikan bahwa pelestarian arsip yang memiliki nilai guna kesejarahan, informasional, dan evidential bagi Kota Yogyakarta secara berkala perlu dipublikasikan kepada masyarakat.
“Diharapkan pameran khazanah arsip foto sebagai salah satu upaya memberikan informasi yang akurat dan akuntabel kepada masyarakat melalui sumber-sumber primer yang dilestarikan, pada tahun-tahun mendatang tetap terjaga konsistensinya dalam menampilkan khazanah arsip Pemerintah Kota Yogyakarta dengan tema-tema yang menarik,” pungkasnya.
Arifin



