Hal senada juga disampaikan Agung, penggiat pariwisata asal Bali dari Damara Tour. Ia mengaku larangan study tour yang dikeluarkan Gubernur Jawa Barat berdampak besar terhadap berbagai sektor.
“Surat edaran ini sangat terasa dampaknya, khususnya bagi kami para pelaku wisata. Bukan hanya agen perjalanan, tapi juga PO bus, restoran, dan semua yang terlibat dalam ekosistem pariwisata,” jelasnya.
Agung menilai, kebijakan tersebut diambil terlalu tergesa dan tidak mempertimbangkan dampak luasnya. Ia berharap pemerintah segera mengevaluasi keputusan itu agar tak berkepanjangan.
“Ekonomi Indonesia ini sekitar 30 persen bergantung pada pariwisata. Jika kebijakan seperti ini terus dibiarkan, justru kami yang berada di lapangan yang paling terdampak. Harusnya, sebelum membuat keputusan, dipikirkan matang-matang,” imbuhnya.
Di Bali sendiri, lanjut Agung, hampir seluruh sekolah SMP dan SMA saat ini menghentikan kegiatan wisata karena mengikuti larangan tersebut.
“Kami mengalami penurunan yang sangat parah. Ini sangat memukul kami sebagai pelaku wisata. Kami hanya bisa berharap ada perubahan kebijakan dalam waktu dekat,” tutupnya.
AR



