“Permintaan pasar banyak, tetapi lahannya masih kurang. Kami mulai mengembangkan dari kebun ke pekarangan rumah warga,” jelas Wagino.
Bupati Endah menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan potensi lokal seperti kopi Gunung Gambar. Ia berharap, kawasan ini bisa menjadi destinasi baru yang tak hanya bergantung pada wisata religi, tetapi juga edukasi dan ekonomi kreatif.
“Kita buat brand baru, misalnya kafe, karena kopi tidak akan basi dan saat ada tamu tinggal diseduh. Dari situ bisnis bisa berkembang,” kata Endah.
Endah juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan perguruan tinggi. Ia bahkan menyiapkan bibit kelapa hibrida untuk memperluas komoditas pertanian di kawasan tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan 330 bibit kelapa berikut pupuk organik untuk didistribusikan pada Oktober–Desember 2025. Selain itu, pihaknya juga akan memperkuat pendampingan petani terkait pengendalian hama serta pengadaan sumur bor yang sempat tertunda karena efisiensi anggaran.
Dengan perpaduan potensi sejarah, budaya, dan pertanian, Gunung Gambar diharapkan menjadi ikon baru wisata edukasi Gunungkidul yang berkelanjutan. Kawasan ini diimpikan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi lokal berbasis pariwisata dan produk unggulan daerah.
BW



