Dasarnya adalah bahwa hitung-hitungan mereka, Sri Purnomo yang waktu itu maju mencalonkan diri sebagai anggota DPR-RI ternyata gagal. Kemudian banyaknya dugaan kasus dan potensi masalah-masalah yang ada di Sleman dari era-nya Sri Purnomo, Kustini dan putranya, Raudy Akmal. itu hanya dugaan,” lanjutnya.
Ia juga mengungkapkan, banyaknya dugaan kasus yang terjadi di Sleman itu akan membuat mereka bingung sebenarnya, harus kemana melangkahnya. Sehingga ada kemungkinan bahwa Kustini akan dipasangkan dengan Erina Guhdono dengan posisi Erina sebagai Bupati sedangkan Kustini sebagai wakilnya atau mungkin sebaliknya. Sehingga ada backup disitu agar dugaan-dugaan kasus yang terjadi di era Sri Purnomo dan Kustini tidak terkuak.
“Kemudian, ada potensi dan ada dugaan, ada informasi yang masuk ke saya bahwasanya ada koalisi 5 partai besar yang ada di Sleman, dan itu kemungkinan mengarah ke Erina Guhdono. Berikutnya ada informasi ke saya, dan di cek di media yang lain adanya pertemuan partai – partai yang akan mengusung dan memenangkan mereka,” ungkap Dani.
Mengingat bahwa sampai hari ini belum terlihat jelas siapa yang akan dipasangkan dan yang akan berpasangan di Sleman ini.
“Sehingga ada dugaan dan potensi menurut hemat saya sebagai pengamat politik, aktivis buruh serta aktivis rakyat dan pejuang rakyat saya melihat kondisi politik hari ini di Kabupaten Sleman ini masih menunggu siapa yang akan maju di pilbup 2024 dan menunggu apakah benar Kustini akan dipasangkan dengan Erina Guhdono yang notabene menantu dari presiden RI, Joko Widodo,” pungkasnya.
Arifin/Ed



