“Reog mengajarkan kebersamaan, disiplin, dan penghormatan terhadap tradisi,” ujar Gus Tino, yang juga abdidalem Karaton Surakarta Hadiningrat.
Sementara itu, Katib Syuriyah MWC NU Bayat, Kyai Wahyudi Pujo Prasetyo, menjelaskan bahwa seni Reog telah hidup dan berkembang dalam lintasan sejarah masyarakat Jawa. Ia menegaskan bahwa Reog tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
“Reog tumbuh seiring dakwah para wali dan berjalan selaras dengan nilai-nilai Islam,” jelasnya.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Desa Talang. Kepala Desa Talang, Sutopo, menyatakan komitmen pemerintah desa untuk terus mendukung kegiatan seni budaya yang membawa dampak positif bagi masyarakat.
“Selama kegiatan ini memperkuat kerukunan dan melestarikan budaya, kami siap mendukung,” katanya.
Melalui Festival Reog ini, NU Bayat berharap seni tradisi tidak hanya tetap lestari, tetapi juga menjadi sarana dakwah kultural yang memperkuat harmoni antara nilai keislaman dan budaya lokal.
AR/Ed. MN



