“Tradisi ini kami adakan untuk mengangkat lumpia duleg agar lebih dikenal oleh masyarakat luas,” tuturnya.
Sebenarnya, lumpia duleg ini mirip dengan lumpia Semarang. Namun ukuran lumpia duleg lebih kecil. Kulitnya terbuat dari tepung terigu dicampur pati onggok. Isi lumpia duleg yakni tauge.
Lumpia ini akan semakin nikmat saat dicocol kuah atau juruh dari air gula Jawa dicampur bawang merah dan bawang putih serta sedikit kecap. Lumpia duleg sudah diproduksi warga Dukuh Lemburejo, Desa Gatak, Delanggu, Klaten, sejak 1950-an.
Hamenang dalam kesempatan tersebut mengatakan, bahwa ia merasa terhormat mendapat kesempatan untuk menutup rangkaian kegiatan Cethik Geni yang berlangsung selama empat hari tersebut.
“Harapan ke depan tentu Cethik Geni ini semakin dikenal masyarakat luas, kemudian menjadi festival yang kelasnya tidak hanya di kabupaten tetapi bisa nasional. Untuk masukan, kegiatan ini ke depan bisa digelar di lokasi dengan akses yang lebih mudah,” ucap Hamenang.
Lebih lanjut Hamenang mengatakan bahwa lumpia duleg ini sudah semakin dikenal. Ia juga mendorong agar produk tersebut bisa terus dipromosikan dan diikutkan dalam berbagai kegiatan pameran sebagai salah satu kuliner khas asli Klaten.
Arifin/ed. MN



